Aku kenal AC Milan sejak kecil. Gara-gara PlayStation 2, Winning Eleven, dan komentator bola yang teriak “Shevchenkooot!” dengan penuh semangat. Dari situ, seragam merah-hitam Milan jadi keren banget di mataku. Rasanya kayak punya identitas, meskipun waktu itu aku bahkan nggak tahu Milan itu kota apa, apalagi letaknya di mana.
Tapi setelah (hampir) dua dekade jadi fans, aku suka mikir: apa sih kebanggaan jadi fans Milan?
Masa Kejayaan Itu Sudah Lama Berlalu
Dulu Milan itu raksasa Eropa. Ada Maldini, Nesta, Pirlo, Kaká. Nonton mereka main tuh kayak lihat konser orkestra—indah, rapi, elegan. Tapi sekarang? Yah, jujur aja, kita lebih sering jadi bahan nostalgia ketimbang juara.
Kadang aku iri sama fans Madrid yang bisa bangga pamerin trofi tiap beberapa tahun sekali. Fans City juga, walaupun uang minyak, tapi setidaknya bisa ngerasain timnya main konsisten di Eropa. Kita? Masih bangga karena “pernah” juara. Kata kuncinya: pernah.
Jadi Fans Milan Itu Mirip Jadi Fans Dangdut di Hajatan
Ada masa-masa lagu hits, ada masa-masa sepi order. Tapi kita tetap datang, tetap joget, tetap bangga. Bedanya, kalau fans dangdut bisa request lagu ke biduan, fans Milan cuma bisa request “tolong mainnya jangan bikin jantungan.”
Kebanggaan Itu Justru Ada di Rasa Sakitnya
Entah kenapa, jadi fans Milan itu kayak ditakdirkan punya hubungan toxic. Disakiti berkali-kali, tapi tetap balik lagi.
-
Pas kalah derby lawan Inter, aku ngedumel seminggu penuh.
-
Pas kalah lawan tim papan bawah, aku sumpah nggak mau nonton lagi.
-
Tapi begitu ada jadwal Liga Champions, aku tetap begadang.
Kebanggaannya bukan soal Milan yang selalu menang, tapi karena kita masih bertahan meski sering kalah.
Milan Adalah Identitas, Bukan Sekadar Klub
Buatku, dukung Milan itu bukan lagi soal trofi. Tapi soal identitas. Soal cerita masa kecil, soal ikatan emosional yang nggak bisa dilepas begitu aja.
Karena meskipun dunia bilang Milan udah bukan yang dulu lagi, aku tetap punya alasan sederhana untuk bangga: aku setia sejak dulu, bukan fans karbitan yang datang pas timnya lagi jaya.
Jadi, kebanggaan jadi fans Milan itu apa? Mungkin cuma satu: kami tetap berdiri, meski sering jatuh. Dan entah kenapa, ada rasa bangga di situ.

Komentar
Posting Komentar