Era Baru AC Milan di Bawah Ruben Amorim
AC Milan memasuki musim 2026/27 dengan wajah yang berbeda. Setelah era Massimiliano Allegri berakhir, Rossoneri menunjuk Rúben Amorim sebagai pelatih baru dengan misi membangun identitas permainan yang lebih agresif dan modern.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Saat memperkenalkan Amorim, AC Milan secara resmi menyoroti gaya bermainnya yang mengandalkan high pressing, penguasaan bola, transisi cepat, serta pengembangan pemain.
Artinya, pergantian Allegri ke Amorim bukan sekadar pergantian pelatih. Milan sedang mencoba mengubah cara mereka bermain.
Dari Pragmatism Allegri ke Intensitas Amorim
Di bawah Allegri, Milan lebih identik dengan pendekatan pragmatis. Struktur pertahanan, keseimbangan, pengelolaan tempo, dan kemampuan mengontrol risiko menjadi bagian penting dari permainan.
Amorim membawa pendekatan yang berbeda.
Pelatih asal Portugal tersebut cenderung ingin timnya bermain dengan garis pertahanan lebih tinggi, melakukan pressing di area lawan, serta melakukan transisi secepat mungkin setelah merebut bola.
Perbedaan tersebut sudah terlihat dalam pramusim. Analisis La Gazzetta dello Sport melalui SempreMilan mencatat bahwa posisi blok Milan di bawah Amorim berada beberapa meter lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya, dengan tujuan merebut bola di wilayah lawan.
Masalahnya, perubahan tersebut belum sepenuhnya berjalan.
3-4-2-1 Menjadi Fondasi Baru Milan
Sistem utama yang sedang dibangun Amorim adalah 3-4-2-1.
Dalam sistem ini, tiga bek menjadi fondasi build-up, dua gelandang bertugas menjaga keseimbangan, sementara dua pemain di belakang striker memiliki kebebasan untuk mencari ruang di antara lini lawan.
Namun, posisi paling krusial justru berada di sisi lapangan.
Wing-back memiliki tugas yang sangat berat karena harus memberikan lebar serangan sekaligus bertanggung jawab ketika Milan kehilangan bola. Gazzetta dello Sport menilai area tersebut masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Amorim karena komposisi pemain Milan belum sepenuhnya ideal untuk sistem tersebut.
Alexis Saelemaekers menjadi salah satu pemain yang paling cocok dengan tuntutan tersebut. Sementara Samuel Chukwueze juga sedang diuji sebagai wing-back kanan, meskipun kemampuan bertahannya masih menjadi pertanyaan.
Lini Tengah Milan Mulai Menemukan Bentuk
Menariknya, Amorim tampaknya tidak ingin melakukan revolusi total di lini tengah.
Menurut laporan terbaru Gazzetta dello Sport, Ruben Loftus-Cheek, Yunus Musah, dan Samuele Ricci dipertahankan setelah mendapatkan kepercayaan dari Amorim. Mereka bergabung dengan Ardon Jashari, Luka Modric, Christian Comotto, dan Adrien Rabiot sebagai opsi lini tengah Milan.
Bahkan Rabiot berpotensi mendapatkan peran baru.
Amorim disebut mempertimbangkan Rabiot sebagai salah satu dari dua attacking midfielder di belakang striker, sebuah posisi yang pernah ia jalankan ketika bermain di Marseille. Musim lalu, Rabiot mencatat enam gol dan lima assist dalam 32 penampilan bersama Milan.
Jika skenario tersebut benar-benar digunakan, Ardon Jashari berpeluang mendapatkan ruang lebih besar di double pivot bersama Modric.
Gonçalo Ramos Menjadi Bagian Penting Proyek Amorim
Transfer terbesar Milan musim panas ini juga menunjukkan arah permainan yang ingin dibangun Amorim.
Gonçalo Ramos didatangkan dari Paris Saint-Germain dan menandatangani kontrak hingga 2031.
Striker Portugal tersebut bukan hanya investasi finansial besar, tetapi juga profil yang cocok untuk sistem Amorim: mampu bergerak, melakukan pressing, menyerang ruang, dan terlibat dalam kombinasi di area depan.
Di belakangnya, Milan memiliki pemain seperti Christian Pulisic dan Rabiot yang dapat beroperasi sebagai dua pemain pendukung dalam skema 3-4-2-1.
Masalah Amorim: Skuad Belum Sepenuhnya Siap
Inilah bagian yang membuat proyek Amorim belum bisa dinilai secara utuh.
Milan hanya meraih hasil 2-2 melawan Celtic, 1-1 kontra Inter, dan kalah 3-0 dari Chelsea dalam tiga laga pramusim sebelum menghadapi Manchester United. Kekalahan dari Chelsea menjadi alarm karena Milan bahkan tidak mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Persoalannya bukan hanya hasil.
Pressing belum konsisten, lini belakang masih melakukan kesalahan individu, sementara lini depan kesulitan menciptakan peluang. Di sisi lain, kebutuhan pemain di posisi wing-back juga masih menjadi perhatian utama.
Kesimpulan: Amorim Sedang Membongkar Identitas Milan
Pergantian Allegri ke Amorim pada akhirnya bukan sekadar perubahan pelatih. Ini adalah perubahan identitas.
Milan ingin beralih dari sepak bola yang lebih berhati-hati menuju permainan dengan pressing tinggi, transisi cepat, build-up terstruktur, dan sistem 3-4-2-1.
Namun, perubahan sebesar ini membutuhkan waktu. Amorim masih harus menemukan kombinasi terbaik dari pemain yang tersedia, terutama di sektor wing-back dan lini serang.
Jika berhasil, Milan bisa memiliki identitas permainan yang jauh lebih jelas. Tetapi jika gagal beradaptasi, masalahnya bukan sekadar taktik Amorim—melainkan ketidaksesuaian antara filosofi pelatih dan materi pemain.
Satu hal yang pasti: AC Milan musim 2026/27 bukan lagi Milan milik Allegri. Sekarang, San Siro sedang memasuki era Ruben Amorim.

Komentar
Posting Komentar