Massimiliano Allegri sering dilekatkan dengan label pelatih defensif dan pragmatis. Dalam konteks AC Milan, anggapan tersebut kembali mencuat karena gaya bermain Rossoneri yang kerap terlihat menahan tempo, terutama ketika sudah unggul. Namun jika ditelaah lebih dalam, pendekatan Allegri bukan soal menolak sepak bola menyerang, melainkan tentang menolak chaos dalam permainan.
Bagi Allegri, sepak bola modern terlalu sering terjebak dalam permainan transisi tanpa kendali. Ia percaya bahwa tim besar tidak hanya ditentukan oleh seberapa agresif menyerang, tetapi oleh kemampuan menjaga struktur, jarak antar lini, dan penguasaan tempo pertandingan.
Filosofi Dasar Allegri: Kontrol Lebih Penting dari Intensitas
Allegri tidak pernah secara eksplisit menolak pressing atau permainan cepat. Namun ia menempatkan intensitas sebagai alat, bukan identitas. Dalam sistemnya, menyerang harus dilakukan dengan struktur yang jelas dan risiko yang terukur.
Di AC Milan, prinsip ini terlihat dari:
-
Jarak antar lini yang relatif rapat
-
Minimnya duel transisi terbuka
-
Prioritas menjaga shape dibanding memaksakan progresi vertikal
Pendekatan ini membuat Milan jarang tampil spektakuler, tetapi juga relatif stabil dalam fase bertahan. Allegri memandang chaos sebagai kondisi paling berbahaya dalam pertandingan, karena membuka ruang kesalahan individual dan memperbesar peluang lawan menciptakan peluang dari situasi acak.
Mengapa Milan Sering Menurunkan Tempo Saat Unggul
Salah satu kritik terbesar terhadap Milan di bawah Allegri adalah kecenderungan menurunkan tempo setelah mencetak gol. Namun dalam perspektif taktis, hal ini justru menjadi inti dari filosofi Allegri.
Allegri meyakini bahwa fase paling rawan dalam pertandingan adalah setelah unggul. Pada momen ini, tim sering kehilangan disiplin posisi dan terbawa emosi untuk terus menekan. Oleh karena itu, Milan diarahkan untuk:
-
Mengontrol bola lebih lama
-
Mengurangi risiko progresi langsung
-
Memaksa lawan keluar dari shape bertahan
Bagi Allegri, kemenangan bukan soal menambah gol, tetapi memastikan lawan tidak diberi momentum untuk kembali ke pertandingan.
Masalah Implementasi: Pemain Masih Terjebak Pola Chaos
Kendala utama pendekatan Allegri di Milan bukanlah filosofi, melainkan eksekusi. Beberapa pemain Milan masih terbiasa dengan gaya bermain vertikal dan agresif, yang sering kali menciptakan ketidakseimbangan.
Masalah yang kerap muncul antara lain:
-
Gelandang terlalu cepat meninggalkan posisinya
-
Winger melakukan sprint tanpa dukungan struktur
-
Bek naik bersamaan tanpa proteksi transisi
Situasi ini menciptakan celah yang bertentangan dengan prinsip dasar Allegri. Akibatnya, Milan terlihat ragu: tidak sepenuhnya agresif, tetapi juga belum sepenuhnya terkontrol.
Allegri dan Persepsi Publik: Masalah Estetika
Secara umum, gaya bermain Allegri sering kalah populer dibanding sepak bola berbasis pressing tinggi. Permainan yang terkontrol, sabar, dan minim risiko kerap dianggap membosankan, meski efektif.
Namun secara historis, pendekatan Allegri terbukti sukses ketika didukung pemain dengan kecerdasan taktis tinggi. Di Milan, tantangannya adalah membentuk skuad yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga disiplin secara posisi dan keputusan.
Kesimpulan
Massimiliano Allegri bukan pelatih anti menyerang. Ia adalah pelatih yang menempatkan kontrol sebagai fondasi utama permainan. Dalam konteks AC Milan, pendekatan anti-chaos ini bertujuan mengurangi kesalahan struktural yang selama beberapa musim terakhir kerap merugikan tim.
Keberhasilan filosofi Allegri di Milan pada akhirnya tidak hanya bergantung pada skema, tetapi pada kemampuan pemain menjalankan sepak bola yang lebih dewasa, sabar, dan terorganisir.

Komentar
Posting Komentar