Kalau ngomongin Massimiliano Allegri, biasanya orang langsung kebagi dua:
yang bilang dia jenius pragmatis, sama yang bilang dia cuma pelatih defensif yang “beruntung”.
Tapi kalau ditarik lebih dalam, sebenernya Allegri itu pelatih yang sangat tergantung pada satu posisi. Dan ini bukan rahasia besar, cuma sering nggak disadari.
Tanpa posisi ini, jujur aja… Allegri kelihatan medioker.
Allegri Bukan Pelatih yang “Bikin Sistem dari Nol”
Allegri itu bukan tipe pelatih kayak Guardiola atau De Zerbi yang menciptakan sistem kompleks. Dia bukan juga tipe yang ngejar dominasi bola atau pressing gila-gilaan.
Allegri itu pelatih yang:
-
Baca situasi
-
Main aman
-
Nunggu momen
-
Dan mengontrol pertandingan lewat keseimbangan
Nah, semua itu cuma bisa kejadian kalau satu posisi ini jalan.
Posisi Paling Penting di Dunia Allegri: Gelandang Tengah Pengatur Irama
Mau formasinya 4-3-3, 3-5-2, atau 4-2-3-1, ada satu benang merah di tim Allegri:
harus ada gelandang yang “ngatur segalanya” di tengah.
Bukan sekadar gelandang bertahan.
Bukan cuma gelandang kreatif.
Tapi gelandang yang ngerti kapan harus lambat, kapan harus cepat, kapan tim harus narik napas.
Kalau diibaratkan, ini tuh kayak:
-
Remote control tim
-
Metronom permainan
-
Otaknya struktur Allegri
Tanpa ini? Permainan Allegri kosong.
Kenapa Posisi Ini Krusial Banget Buat Allegri
Allegri itu suka bilang (dan sering kelihatan di lapangan):
“Kontrol pertandingan lebih penting dari sekadar nyerang terus.”
Dan kontrol itu datangnya dari tengah, bukan dari winger atau striker.
Gelandang ini tugasnya:
-
Nampung bola pas bek lagi panik
-
Motong alur lawan sebelum jadi bahaya
-
Nentuin mau build-up pelan atau langsung vertikal
-
Jaga jarak antar lini tetap rapet
Makanya, waktu Allegri punya pemain kayak Pirlo di Juve, sistemnya keliatan hidup.
Waktu dia nggak punya? Timnya keliatan… ya gitu.
Kenapa Tanpa Posisi Ini Allegri Kelihatan Medioker
Ini bagian jujurnya.
Kalau gelandang pengatur irama ini:
-
kalah duel,
-
telat baca situasi,
-
atau nggak berani minta bola,
maka semua rencana Allegri runtuh.
Yang kejadian:
-
Build-up macet
-
Tim kepanjangan nendang jauh
-
Jarak antar lini renggang
-
Dan akhirnya Milan cuma “nunggu keajaiban” dari individu
Di momen kayak gini, Allegri nggak keliatan jenius.
Dia keliatan kayak pelatih yang nggak punya Plan B.
Di Milan Sekarang, Siapa yang Jadi Kunci?
Makanya Allegri kelihatan sangat protektif ke pemain-pemain tertentu di tengah.
Bukan tanpa alasan.
Karena mau sejelek apa pun permainan, selama gelandang pengatur ini masih pegang kendali, Allegri masih merasa aman.
Makanya juga:
-
dia rela korbankan estetika,
-
rela dicap defensif,
-
asal struktur tengahnya nggak rusak.
Kesimpulannya
Allegri itu bukan pelatih buruk.
Tapi dia bukan pelatih yang bisa jalan tanpa fondasi.
Dan fondasi itu bukan striker tajam, bukan winger eksplosif.
Fondasi Allegri ada di satu posisi: gelandang pengatur irama di tengah.
Tanpa posisi itu:
-
Allegri kehilangan kontrol
-
Milan kehilangan arah
-
Dan Allegri cuma terlihat… biasa aja
Itu sebabnya, kalau kamu mau nilai Allegri, jangan lihat gol atau penguasaan bola.
Lihat siapa yang pegang kendali di tengah.
Kalau itu jalan, Allegri keliatan jenius.
Kalau enggak, ya… kamu tau sendiri.

Komentar
Posting Komentar