Langsung ke konten utama

Milan vs Lazio 2-2: Hampir Comeback, Pelajaran Penting untuk Amorim

Milan vs Lazio: Comeback yang Menyelamatkan Satu Poin

AC Milan pulang dari Olimpico dengan hasil imbang 2-2 melawan Lazio. Namun, skor tersebut sebenarnya tidak menggambarkan jalannya pertandingan secara utuh.

Rossoneri tampil buruk pada babak pertama dan tertinggal dua gol. Lazio mampu memanfaatkan tekanan serta tempo permainan untuk membuat Milan kesulitan membangun serangan.

Situasi berubah drastis setelah jeda. Ruben Amorim melakukan tiga pergantian sekaligus dengan memasukkan Diego Moreira, Christian Pulisic, dan Yunus Musah. Hasilnya langsung terlihat.

Moreira mencetak dua gol dalam waktu singkat untuk menyamakan kedudukan, sementara Pulisic ikut memberikan assist. Milan yang sebelumnya terlihat kesulitan akhirnya tampil jauh lebih agresif.

Bagi Amorim, ini bukan hanya soal comeback. Ada beberapa pelajaran penting yang seharusnya memengaruhi pilihan starting XI berikutnya.

Ruben Loftus-Cheek dan Estupiñán Kurang Cocok untuk Laga dengan Tempo Tinggi

Salah satu evaluasi terbesar datang dari pilihan pemain sejak menit pertama.

Ruben Loftus-Cheek dan Pervis Estupiñán menjadi starter ketika Milan menghadapi Lazio yang bermain agresif dan memiliki intensitas tinggi. Keduanya kemudian ditarik keluar pada awal babak kedua.

Ini bukan berarti keduanya merupakan pemain buruk.

Masalahnya lebih kepada kecocokan profil dengan pertandingan.

Loftus-Cheek memiliki kemampuan fisik dan teknik yang sangat baik, tetapi Amorim sendiri sebelumnya menekankan bahwa sang gelandang harus mampu terlibat secara konsisten selama 90 menit.

Sementara itu, Estupiñán terlihat kesulitan menghadapi intensitas permainan Lazio. Ketika Milan membutuhkan pemain yang mampu membawa bola dengan cepat, memenangkan duel transisi, dan memberikan ancaman dari sisi lapangan, performanya belum memberikan solusi yang cukup.

Untuk menghadapi tim dengan high pressure dan tempo cepat, Amorim tampaknya perlu mempertimbangkan profil yang berbeda.

Moreira, Pulisic dan Musah Layak Dipertimbangkan sebagai Starter

Justru tiga pemain yang masuk pada babak kedua memberikan jawaban yang sangat menarik.

Diego Moreira menjadi pemain paling menonjol setelah mencetak dua gol dan mendapatkan penilaian tinggi dari media Italia.

Christian Pulisic juga memberikan dampak langsung dengan assist untuk gol pertama Moreira. Sementara Yunus Musah membawa energi dan dinamisme yang sebelumnya hilang dari lini tengah Milan.

Ketiganya memiliki satu kesamaan: mobilitas.

Dalam sistem 3-4-2-1 Amorim, kemampuan bergerak cepat, membawa bola, melakukan pressing, dan melakukan transisi menjadi sangat penting.

Karena itu, Moreira, Pulisic dan Musah seharusnya mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari starting XI utama, terutama ketika Milan menghadapi lawan yang bermain agresif.

Rabiot Harus Dikembalikan ke Posisi Alaminya

Kasus Adrien Rabiot juga menarik.

Amorim sebelumnya menjelaskan bahwa Rabiot memiliki karakter box-to-box, kemampuan mengatur tempo, serta kualitas untuk melakukan penetrasi ke area lawan.

Artinya, memaksanya terlalu jauh dari karakter tersebut justru berpotensi mengurangi kekuatannya.

Untuk Milan saat ini, Rabiot sebaiknya kembali memainkan peran yang lebih natural di lini tengah. Dengan mobilitas dan kemampuan membawa bola yang dimilikinya, ia bisa menjadi penghubung antara lini tengah dan serangan.

Sementara itu, pemain seperti Pulisic atau Moreira dapat memberikan kreativitas lebih tinggi di area depan.

Modrić Tidak Harus Selalu Menjadi Starter

Luka Modrić tetap merupakan pemain dengan kualitas luar biasa. Namun, usia dan karakter permainannya membuat Amorim perlu melakukan manajemen yang lebih cerdas.

Laga melawan Lazio menunjukkan bahwa Milan membutuhkan energi dan kecepatan ketika pertandingan berjalan sangat intens.

Karena itu, Modrić mungkin lebih efektif dimainkan pada babak kedua, ketika tempo pertandingan mulai menurun dan kualitas umpannya bisa memberikan perbedaan.

Alternatif lainnya adalah menggunakan Modrić sebagai starter ketika Milan menghadapi lawan yang bermain lebih rendah dan memberikan Milan lebih banyak waktu untuk mengontrol pertandingan.

Ini bukan tentang mencadangkan Modrić karena kualitasnya menurun. Ini tentang memaksimalkan kualitas Modrić pada situasi yang paling menguntungkan.

Kesimpulan: Amorim Sudah Mendapat Jawabannya

Hasil 2-2 melawan Lazio seharusnya menjadi lebih dari sekadar satu poin.

Babak pertama menunjukkan bahwa pilihan starter Amorim masih membutuhkan evaluasi. Babak kedua justru memberikan beberapa jawaban.

  • Moreira, Pulisic dan Musah memberikan intensitas yang dibutuhkan Milan. 
  • Rabiot perlu mendapatkan peran yang lebih natural, 
  • Modrić dapat menjadi senjata penting dari bangku cadangan atau ketika menghadapi lawan dengan tekanan lebih rendah.

Amorim sendiri mengakui bahwa Milan tampil seperti tim yang berbeda pada babak kedua, tetapi ia juga menegaskan bahwa tim tidak bisa hanya bermain bagus selama satu babak.

Milan memang hampir melakukan comeback sempurna di Olimpico.

Tetapi bagi Ruben Amorim, pelajaran terpenting justru ada pada 45 menit pertama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Inter dan Milan Punya Stadion yang Sama tapi Beda Nama?

Sumber: sportspro.com Bagi para penggemar sepak bola, stadion San Siro adalah salah satu ikon paling terkenal di dunia. Tapi yang unik, stadion ini digunakan oleh dua klub besar Serie A, yaitu AC Milan dan Inter Milan.  Meski berbagi stadion yang sama, kedua klub ini menyebutnya dengan nama berbeda: Milan menyebutnya San Siro , sementara Inter menyebutnya Giuseppe Meazza . Bagaimana sejarah di balik fenomena ini? Yuk, kita bahas! Sejarah Singkat Stadion San Siro San Siro, yang terletak di Milan, dibangun pada tahun 1926 atas inisiatif Piero Pirelli, presiden AC Milan saat itu. Awalnya, stadion ini hanya digunakan oleh AC Milan dan memiliki kapasitas sekitar 35.000 penonton. Stadion ini diberi nama sesuai dengan nama distrik di mana stadion tersebut berada, yaitu San Siro. Pada tahun 1947 , Inter Milan mulai berbagi penggunaan stadion dengan AC Milan. Hal ini dilakukan karena Inter tidak memiliki stadion sendiri yang memadai untuk menggelar pertandingan besar.  Sejak saat i...

Gaya Bermain Massimiliano Allegri: Apa yang Akan Dibawa ke AC Milan?

Massimiliano Allegri balikan sama AC Milan, jujur deh Milanisti puas atau enggak? Coba komen langsung ya. Pastinya Allegri kembali tidak hanya untuk dicaci maki oleh para fansnya.  Tapi mencoba kembali mengembalikan AC Milan ke jalur kemenangan dan tentunya menjadi juara Eropa dan di Serie A.  Kembalinya Massimiliano Allegri ke AC Milan sebagai pelatih kepala menjadi momen besar yang mengejutkan publik sepak bola Italia. Setelah bertahun-tahun bersama Juventus dan meraih berbagai trofi, kini Allegri kembali ke klub yang pernah membawanya meraih Scudetto pada musim 2010/2011.   Namun, pertanyaannya: seperti apa gaya bermain Allegri yang sesungguhnya, dan apa dampaknya bagi skuad Milan saat ini? 1. Filosofi Dasar: Pragmatism Above All Massimiliano Allegri dikenal sebagai pelatih pragmatis. Ia bukan tipe pelatih yang selalu mengusung permainan menyerang agresif seperti Guardiola atau Klopp, tetapi lebih memilih efisiensi dan hasil. Gaya bermainnya menekankan soliditas perta...

Youssouf Fofana di AC Milan: Kritik, Statistik & Penyebab Performa Menurun

1. Sorotan Negatif dari Milanisti Belakangan, banyak fans Milan yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap penampilan Youssouf Fofana. Di forum seperti Reddit, ada pendapat bahwa Fofana “kurang effort” dan kerap membuat kesalahan penting saat pertahanan Milan rapuh: “He has these weird bouts where he becomes extremely lazy … and it usually results in the other team scoring.” – pengguna r/ACMilan Reddit Beberapa pengguna menilai bahwa kontribusi Fofana di lini tengah tidak setara ekspektasi. 2. Statistik Tiga Laga Terakhir & Data Performa Berdasarkan catatan dari beberapa sumber: Menurut FC-Tables , dalam musim 2025/26, Fofana bermain 14 kali untuk Milan di semua kompetisi, mencatat 2 gol dan 2 assist , dengan total menit bermain 1.582. Fctables Dari data Sofascore , rata-rata penilaian Fofana cenderung stabil sekitar 6.7 – 6.9 per pertandingan. Sofascore Statistik internal Milan juga menunjukkan dia recovery bola cukup baik (ball recoveries), tetapi akurasi umpan da...